News
Seberapa Kenal Panorama Group akan Millennial Market?
Seberapa Kenal Panorama Group akan Millennial Market?

Beberapa tahun belakangan ini timbul generasi Y atau sering disebut dengan Millennial Generation, yaitu generasi yang muncul setelah generasi X. Ungkapan Generasi Y mulai dipakai pada editorial koran besar di Amerika Serikat bulan Agustus tahun 1993. Pada saat itu editor koran tersebut sedang membahas para remaja yang pada saat itu baru berumur 12–13 tahun, namun memiliki perilaku yang berbeda dengan Generasi X. Perbedaan perilaku yang dimaksud antara lain cara mereka mencari informasi, bekerja hingga traveling atau kita sebut Millennial Traveller. Beberapa ciri dari millennial generation adalah no brand loyalty, price sensitive, influencer, tidak takut mencoba hal baru, dan lebih suka percaya kepada testimonial yang di upload oleh sesama pengguna akun sosial. Berbicara dari segi traveling, generasi ini juga mengalami perubahan dibanding generasi sebelumnya. Panorama sebagai grup perusahaan pariwisata terbesar, melihat bahwa ini akan menjadi pe-er besar dalam waktu dekat jika perusahaan tidak benar-benar concern menggarap pasar ini.

Hans Tjandra, selaku VP E-Commerce Panorama Group, menyatakan bahwa Panorama Group sudah memikirkan rencana usaha jangka panjang terutama dalam pengembangan e-commerce. bookpanorama.com adalah contoh kongkrit dari hasil “mendengarkan” apa yang menjadi kebutuhan millennial market. bookpanorama.com dengan konsep awal yang sangat sederhana yaitu “Mengapa orang harus membayar jasa yang sama sekali belum mereka nikmati?” Dengan lebih dari 500,000 pilihan hotel, terbukti efektif bagi customer untuk bisa mendapatkan rekomendasi hotel sesuai kebutuhan mereka. Fleksibilitas free cancellation dan bebas biaya untuk “gonta-ganti” tanggal, menambah credit point bagi bookpanorama.com dimana millennial market cenderung spontan dalam memilih jadwal penerbangan dan tur mereka.

Dalam waktu dekat Panorama Group akan mengembangkan produk paket liburan free & easy. Banyak market milenial mengganggap bahwa tur keluar negeri yang sering ditawarkan adalah untuk untuk orang yang sudah lebih dewasa, dan terkesan “ngejar setoran” - mereka tidak dapat menikmati suasana diluar negeri karena banyaknya tempat yang harus dikunjungi dalam sekali perjalanan. Karakter millennial traveller mengalami pergeseran yaitu lebih memilih untuk traveling sesering mungkin dengan budget seminim mungkin. Destinasi yang dipilihpun kurang dari 5 jam terbang. Paket free and easy dinilai tepat untuk menjangkau pasar ini yang tidak suka didikte oleh jadwal penerbangan yang tetap (fixed).Fokus jangka pendek e-commerce juga akan melaunching produk baru dari Panorama Tours, yaitu panoramatours.com yang akan menyediakan paket-paket perjalanan via internet (online).

Berbicara kesiapan individu dalam Panorama Group menghadapi era millennial market, kita dapat berkaca pada yang pernah Pak Budi Tirtawisata sampaikan di TTG Asia Forum, “kembangkan ide-ide dari dalam, dari segala kalangan mulai dari milenial, Gen-X, Baby Boomers dan sediakan wadah untuk menampung semua aspriasi dan ide yang ada, encourage young minds to speak up, sehingga kita semua bisa sama-sama tumbuh sebagai unit yang kuat”.

E-commerce di Indonesia

Sangat berhubungan dengan kebijakan pemerintah, terutama dalam hal investasi luar negeri, undang undang perpajakan, undang-undang informatika terkait keamanan dan perlindungan konsumen, serta infrastruktur internet yang baik dan merata. Setelah itu, kita berbicara tentang pengguna internet di Indonesia, demand di e-commerce, dan berapa besar pangsa pasar yang nyata. Memang penetrasi internet di Indonesia tumbuh sangat signifikan yaitu mendekati 40% penduduk Indonesia menggunakan internet. Namun, asumsi bahwa bisnis e-commerce di Indonesia akan cepat take off, padahal persepsi yang dinilai terlalu naïf.

Kontribusi E-commerce bagi Panorama Group

Kontribusi E-Commerce terhadap pendapatan usaha Panorama Group dalam dua tahun ke depan belum terlalu signifikan (masih dibawah 10%), online travel industry diperkirakan baru akan take off di 2017. 2014-2015 adalah momen start up sekaligus survival mode, dimana investor yang wise yang akan survive, awal 2016 adalah periode dimana akan banyak perusahaan e-commerce yang akan “rontok” karena tidak mendapatkan investor, sehingga semester kedua 2016 akan lebih banyak lagi perusahaan yang terakuisisi. 2017 adalah masa panen karena hanya akan dikuasai oleh pemain yang bertahan melalui tahun-tahun sulit. Setelah 2017, angka 20% dinilai cukup realistis bagi nilai kontribusi e-commerce terhadap pendapatan grup, karena beberapa proyek besar yang sedang dikerjakan akan selesai dalam kurun waktu 2 tahun ditambah lagi beberapa business unit yang memang sudah mapan.







Recent Update