Corporate Release
CEO Message: Memaknai Hari Pariwisata Dunia
CEO Message: Memaknai Hari Pariwisata Dunia

Tanggal 27 September setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Pariwisata Dunia, dimana pada periode tanggal tersebut dipercaya sebagai masa transisi waktu liburan dari bumi bagian utara ke bumi bagian selatan bersamaan dengan datangnya musim semi di selatan bumi. Peringatan Hari Pariwisata Dunia ini pun telah ditetapkan oleh UNWTO sejak tahun 1980.

Pariwisata memang industri yang unik, dimana sektor ini tidak mengeruk/merusak alam tapi juga mampu mendatangkan devisa melalui ‘impor’ wisatawan (tentunya dari mancanegara). Tidak heran jika Pemerintah Indonesia juga menetapkan Pariwisata sebagai sektor unggulan dengan target yang bisa dibilang cukup optimis bagi industri yang masih mencari bentuknya.

Mengapa saya katakan pariwisata kita masih mencari bentuk? Karena Indonesia yang kaya dengan eksotisme keindahan alam, pesona budaya dan sejarah, serta identitas ke-Indonesia-an yang sangat khas hanya mampu mencatatkan total kontribusi atas PDB sebesar hampir USD 58,9 milyar pada tahun 2017 menurut WTTC (World Travel and Tourism Council). Angka ini hanya 1/6 dari total kontribusi atas PDB dari Pariwisata di Asean yang hampir mencapai USD 330 milyar di tahun 2017. Lalu bentuk seperti apa yang tepat agar Pariwisata Indonesia bisa menopang kuat ekonomi Indonesia? Apakah masih tepat mengejar kuantitas (jumlah wisman) ketimbang perbaikan kualitas (nilai belanja wisman/expenditure)?

Melejitnya Pariwisata

Pariwisata merupakan indikator paling kentara atas keberhasilan ekonomi sebuah negara. Ambil contoh Tiongkok, dengan 135 juta orang Tiongkok pergi keluar negeri setiap tahun menandakan bahwa pendapatan per kapita mereka naik dan cenderung untuk berlibur ke luar negeri demi melihat dunia lain diluar negerinya. Tiongkok tidak sendiri, sebelumnya Rusia, Kuwait, Uni Emirat Arab dan kini beberapa negara Eropa Timur dan Asia Selatan sedang dalam posisi emerging, kini juga menyasar Indonesia sebagai destinasi berlibur. Mereka tidak menjanjikan volume besar, namun sebagai negara-negara yang masuk dalam mid-haul market (penerbangan diatas 6 jam) tentunya tidak akan tinggal sebentar di negara tujuan dan itu berarti pembelanjaan mereka selama di Indonesia akan lebih banyak.

Banyak negara semakin menyadari untuk membuka akses seluas-luasnya untuk menerima wisatawan luar negeri melalui program free-visa ataupun visa-on-arrival, hal ini mendorong semakin terbukanya akses untuk orang traveling dari satu negara ke negara lainnya, maka traveling merupakan hak asasi manusia. Tentunya hal ini juga didorong oleh pesatnya digitalisasi di bidang pariwisata yang memudahkan orang untuk membeli tiket pesawat, pemesanan hotel dan komponen perjalanan lainnya secara online melalui aplikasi yang tersedia. Betul bahwasanya digital mempermudah konsumen memilih dan membeli, namun ekosistem industri pariwisata Indonesia memerlukan lebih dari sekedar marketplace. Setelah seluruh upaya membangun 3A (accessibility-attraction-amenities) ditempuh, kita perlu Tourismentality!

Tourismentality merupakan upaya Komplit, Komprehensif dan Integratif agar mendapatkan kuantitas sekaligus kualitas dari wisman yang berkunjung ke Indonesia. Kita punya momentumnya: Infrastruktur yang membaik, country branding Wonderful Indonesia yang kuat, pemain pariwisata yang ulet, pertumbuhan Millennials dunia, Pro-tourism government, Pemda yang sadar pariwisata, dan kelas menengah yang stabil sebagai penopang PDB. Aspek-aspek tersebut merangkum: Destinasi, infrastruktur dan aksesibilitas yang baik harus diberdayakan sebagai alat untuk menuju destinasi wisata baru/pilihan; Ekonomi, pariwisata dipertegas sebagai cara membangun ekonomi kerakyatan (inclusive business) dan sharing economy agar masyarakat di satu destinasi sadar bahwa lingkungan, keamanan, keramahan harus dijaga demi mendapatkan untung dari turis yang datang;  Youth Entrepreneurship, millennials bukan hanya sebagai obyek (tamu) tapi juga sebagai subyek (pemain) yang melahirkan inovasi baru berwisata; dan tentunya Teknologi Digital; sebagai alat otomatisasi di sektor tour operator dan juga alat distribusi produk wisata ke konsumen.

Semua hal diatas saling terkait demi mendatangkan wisman yang lebih banyak (kuantitas) dan nilai belanja lebih besar (kualitas) di destinasi-destinasi wisata Indonesia. Tentunya definisi wisman bukan hanya mereka sebagai pelancong yang berlibur tapi juga mereka yang datang untuk kegiatan pameran, konperensi, ataupun event lainnya yang akhirnya terkait dengan komponen pariwisata. Dalam hal ini maka peranan Business-to-Business (b2b) penting untuk menopang transformasi digital di para pemain tour operator, karena masih rendahnya penggunaan teknologi digital di segmen ini. Dengan kesiapan tour operator yang menggunakan teknologi digital, maka otomatisasi dapat terjadi sehingga mereka dapat dengan mudah bekerjasama dengan platform/marketplace di Luar negeri untuk menjual produk tournya.

Kita juga harus meningkatkan peran wisnus untuk pertumbuhan PDB yang positif. Dengan kelas menengah yang kuat dan mau menjadi wisnus, kita tak gentar akan hiruk pikuk Rupiah yang melemah terhadap dollar belakangan ini. Banyak industri yang mengkhawatirkan Rupiah yang melemah 8,65% terhadap Dolar AS hingga pertengahan September 2018. Pariwisata justru merasakan optimisme, keadaan ini memberikan peluang menjadikan Indonesia sebagai destinasi kompetitif bagi wisatawan mancanegara (wisman) dan menggunakan daya beli wisnus untuk berliburan di destinasi-destinasi nusantara. Namun sektor yang bisa dibilang tidak terimbas dari pelemahan rupiah adalah dari corporate market, baik itu perjalanan dinas, incentive maupun kegiatan MICE lainnya. Meeting-Incentive-Conference-Event atau lebih akrab dipanggil MICE memang kurang dianggap bernuansa liburan (leisure), namun jika kita jeli melihat peluang, lakukanlah kegiatan MICE di pertengahan minggu, karena setelah selesai acara, mereka para peserta MICE akan berpikir dan mencoba untuk memperpanjang waktu mereka di Indonesia untuk leisure. Coba perhatikan bagaimana Singapura selalu mengadakan pameran dan konperensi di pertengahan minggu, ini merupakan pasar dengan expenditure 2-3 kali lipat dari wisman yang berlibur, dari sini kita dapatkan kualitas. 

Bali Sebagai Jendela Indonesia

Salah satu destinasi Indonesia yang terus menuai keuntungan dari Pariwisata adalah Bali. Sejak dulu Bali tersohor di seluruh dunia karena keindahan alamnya dan keramahan penduduknya. Tak ayal, Bali terkadang lebih terkenal dari pada Indonesia sendiri. Hingga kini Bali masih menjadi pintu utama datangnya wisatawan mancanegara, menjadikannya padat oleh wisman.

Kenyataan Bali adalah jendela Indonesia sungguh terasa saat Gunung Agung menunjukkan aktifitasnya pada November 2017 lalu. Kejadian alam tersebut bukan hanya menutup sementara Bandara Internasional Ngurah Rai, tetapi juga menyebabkan banyak pembatalan perjalanan ke Indonesia. Gunung Agung berada di Bali, tetapi dampak akan Gunung Agung mempengaruhi industri pariwisata Indonesia secara keseluruhan. Kejadian ini bahkan dinilai membuat target 15 juta wisman pada 2017 lalu meleset. Bagaimanapun juga diperlukan peningkatan kapasitas bandara, amenities dan venue di sekitar bandara, agar Bali bisa menjadi salah satu hub utama selain Jakarta agar target 17 juta wisman tahun 2018 dapat tercapai.

Tahun ini kita juga menghadapi gempa Lombok yang memporakporandakan salah satu destinasi wisata unggulan Indonesia. Maka bagi kita yang hidup di wilayah rawan bencana dan masuk ke dalam area Ring of Fire ini, keniscayaannya adalah memiliki rencana mitigasi, baik untuk penduduk maupun industrinya, termasuk industri pariwisata.

Perbankan untuk pariwisata

Katakan Jakarta dan Bali sebagai pintu gerbang utama bagi wisman masuk ke Indonesia, pemerintah juga dalam progres membuat 10 destinasi baru. Destinasi ini memerlukan Attraction dan Amenities yang sustain, oleh karenanya diperlukan insentif yang menarik dari sektor perbankan dalam kaitannya membangun attraction dan amenities. Pemerintah sudah tepat menyiapkan 4 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata untuk menjadikan mereka sebagai destinasi wisata yang terintegrasi, namun perlu sosialisasi dan kesiapan sektor perbankan untuk melihat potensi di bidang pariwisata. Dan mungkin bukan hanya bicara pendanaan investasi fisik, namun juga pendanaan untuk non-fisik seperti event-event yang menjanjikan return positif. Perluasan kebijakan terhadap sektor pendukung pariwisata dibutuhkan untuk turut mendukung pengembangan destinasi agar destinasi tersebut betul-betul siap untuk menerima kedatangan wisatawan.

 

Indonesia Incorporated

Kembali pada topik Hari Pariwisata Dunia 2018 yang adalah pariwisata dan transformasi digital, maka benar bahwa digitalisasi juga memiliki peran yang penting dalam pariwisata. Media digital menjadi alat promosi yang sangat signifikan untuk pariwisata. Siapa saja kini dapat memasarkan destinasi via media sosialnya, memberikan informasi dan referensi yang menarik wisatawan. Dampak teknologi juga terasa dalam transaksi pariwisata, untuk retail maupun business. Kini pemesanan tiket pesawat dan hotel dilakukan dengan sangat praktis, sehingga pergerakan wisatawan pun semakin cepat.

Seperti dua sisi mata uang, digitalisasi juga memiliki sisi negatif yang harus diperhatikan. Kecepatan informasi ternyata tidak sebanding dengan perkembangan kesadaran masyarakat. Destinasi yang ramai wisatawan justru kadang terluka oleh popularitas; banyaknya sampah yang dibuang sembarangan, pengrusakan alam untuk estetika foto, kelalaian menjaga nilai dan budaya. Begitu pula dalam pengelolaan isu keamanan, cepatnya berkembang isu-isu negatif dapat menghambat pariwisata. Perlu kesadaran bahwa destinasi (pariwisata) tidak hanya dibangun, tetapi juga dijaga. Sudah saatnya pariwisata Indonesia menjadi pariwisata yang bertanggung jawab (responsible tourism).

Pariwisata Indonesia bukan milik perusahaan yang bergerak di sektor pariwisata, bahkan bukan juga milik Pemerintah saja. Pariwisata Indonesia adalah milik seluruh bangsa Indonesia, kita perlu mengelola Pariwisata dengan semangat Indonesia Incorporated seperti tutur Menteri Pariwisata Arief Yahya, sektor pariwisata tak bisa bergerak sendirian membutuhkan sinergi dari semua lapisan masyarakat. Agar terus tumbuh, seluruh masyarakat Indonesia harus memiliki kesadaran untuk membangun stabilitas keamanan dan peningkatan kenyamanan bagi Pariwisata untuk dapat terus berkembang.







Recent Update